Catatanku...

Name: miraykemuning

Thursday, August 07, 2008

Menulis kembali

Wah, setelah setahun absen. Tak bisa bercerita, tak bisa berbagi, tak bisa mencurahkan isi hati. Semua hanya karena aku tak terlalu pandai menyikapi perubahan.
Hari ini, dicoba lagi, dan...yaaaahhhh, aku bisa menulis kembali di blogku.

Friday, March 02, 2007

Sahabat Baru

Sudah hampir sembilan bulan terakhir ini, aku mempunyai teman baru yang semakin lama terasa menjadi seorang sahabat. Ya, sahabat baru. Bagaimana tidak, sejak aku terbangun sampai terlelap kembali, dia selalu bersama. Awalnya, aku hanya tahu dan menyadari tanpa bisa merasakan. Dengan berjalannya waktu, aku mulai bisa merasakan kehadirannya melalui gerakan dalam tubuhku, semakin lama semakin terasa dan sosoknya semakin lama semakin membesar. Aku belum dapat melihat sosoknya dengan jelas, tapi kurasakan detak jantungnya, kurasakan gerakan-gerakan kecilnya dan aku selalu terkagum bila melihat gambar dirinya yang bertumbuh setiap bulannya.
Dia hadir, seperti sebuah keajaiban. Dari tak ada, menjadi ada. Dari sebuah bentuk tak berwujud, menjadi sosok kecil yang menimbulkan rasa sayang dan cinta. Tak pernah dia bisa bercakap denganku, tetapi aku tahu dia merasa, dia mendengar dan dia tahu. Belum pernah terjadi dalam hidupku ada sosok bernyawa yang tak pernah lepas dari kehidupanku. Bersama kami lalui tawa, tangis, sakit dan bahagia. Dia tak terpisahkan.
Sekarang ini, dia hampir tiba di dunia. Tak sabar kunanti kehadirannya, sambil juga bersiap kehilangan kebersamaan kami yang tak terputus. Saat ini aku harus mulai belajar, saat dia hadir di dunia, adalah saat aku menemaninya menjadi sosok pribadi baru tanpa harus mengikatnya terus dekat denganku. Satu harapanku, dia bisa tumbuh menjadi sosok yang bahagia dengan dirinya sendiri dan bahagia menjadi dirinya sendiri kelak.

Wednesday, November 01, 2006

Sosok Pahlawan

Seseorang menjadi pahlawan, bila ia dianggap berjasa oleh orang lain atau oleh sekelompok masyarakat. Membayangkan pahlawan kemanusiaan, sering kita diingatkan pada tokoh Mahatma Gandhi, Pangeran Diponegoro atau Ibu Theresia. Hampir kebanyakan hidup orang yang dianggap pahlawan, bisa dijadikan teladan. Mulai dari ketulusan, kesederhaan, kemauan untuk berkorban dan semua hal baik lainnya.

Lain dengan tokoh Oskar Schindler. Aku mengenal tokoh ini melalui film karya Stephen Spielberg "Schindler List". Melihat tokoh Oskar, rasanya kok tidak pas dengan deskripsi pahlawan, yang menunjukkan kejujuran, kebaikan, kesetiaan, kesederhanaan, niat baik atau kepedulian terhadap orang lain. Oskar Schindler, yang adalah seorang oportunist NAZI pada waktu perang dunia ke dua, jauh dari deskripsi itu. Setelah mencari-cari informasi tentang hidupnya dan karya kepahlawanannya, aku jadi bertanya-tanya dan sedikit heran. Bagaimana seorang seperti Oskar mampu menolong dan menyelamatkan 1200 orang Yahudi dari kamp konsentrasi NAZI, sementara kebanyakan orang lain hanya sanggup merasa prihatin tanpa sanggup melakukan apa-apa.

Oskar Schindler adalah seorang Jerman. Gagah, charming, bermata biru dan memiliki kemampuan dan talenta untuk menjadi seorang presenter yang baik. Kemampuannya membujuk, merayu, meyakinkan orang lain dengan segala cara, membuat pengusaha yang sering gagal itu mempunyai usaha yang maju bahkan didukung sepenuhnya oleh penguasa NAZI yang berkuasa saat perang dunia ke duaitu. Motivasi awal ia melakukan semua itu hanyalah mencari keuntungan dan kekayaan belaka. Saat perang, saat pengusaha Yahudi yang kaya di Polandia harus melepaskan kekayaannya, saat NAZI sedang berjaya, saat itulah ia memanfaatkan talentanya untuk merenguk keuntungan yang sebanyak-banyaknya. Hidupnya digambarkan sebagai seorang yang suka minum-minum, pesta, main perempuan, lengkap dengan praktek kolusi dan sogok sana sini untuk mendapatkan kemudahan usahanya. Padahal disisi lain, seorang Itzak Stern, akuntan Yahudi, yang sesungguhnya menjadi otak dibalik semua kesuksesannya.

Sampai disini, tak pernah terlintas ia akan menjadi sosok yang dicatat dalam sejarah. Tidak terlihat nilai-nilai kepahlawanan dalam sosoknya, bahkan istri dan perkawinannya pun begitu tidak penting baginya. Tetapi, di satu saat, ketika dari hari ke hari ia melihat kekejaman tentara Jerman dan ketika para pekerjanya harus dikirimkan ke Auswitz untuk dibunuh, hidupnya jadi berubah. Cara pandangnya jadi berubah.

Bertolak dari sana, ia lalu melepaskan segala miliknya. Sebetulnya, saat para pekerjanya, yang keseluruhannya terdiri dari orang Yahdui, hendak dikirim ke Auswitz untuk dibunuh, ia bisa pergi dan membawa keuntungannya kembali ke Jerman. Tetapi yang ia lakukan justru menggunakan kekayaan dan pengaruhnya untuk menyelamatkan 1200 orang Yahudi dari kamar gas di Auswitz. Dengan trik, suap dan kolusi yang memang sudah menjadi kebiasaannya, ia lepaskan semua yang ia miliki demi sekian banyak nyawa, nyawa "Schindler Jews". Ia memang akhirnya dianggap pahlawan oleh orang Yahudi tetapi dianggap penghianat oleh bangsanya sendiri. Ia meninggal dalam keadaan bangkrut, tetapi mendapat penghormatan di Israel.

Aku tak pernah bisa mengerti hal apa yang mendorong ia melakukan semua itu. Yang bisa kutangkap hanyalah, dibalik cara hidupnya yang tidak biasa untuk sosok seorang pahlawan, ia masih memiliki hati nurani dan rasa kemanusiaan yang mampu merubuhkan tembok kebencian, baik kebencian pada etnis, suku, agama, pandangan hidup atau perbedaan lainnya.

Seandainya, rasa dan hati seperti itu masih ada pada setiap kita, lepas dari bagaimana sifat, karakter atau cara hidup, rasanya tak perlu lagi ada perpecahan, kekerasan dan peperangan terjadi.

Tuesday, October 17, 2006

Kembali

Setelah empat bulan terkapar dalam ketidakberdayaan dan kemanjaan, hari ini aku kembali melangkahkan kaki ke tempat dimana aku biasa bekerja. Belum, aku belum mendapatkan pekerjaan. Tetapi statusku sebagai scientist tamu membuat beberapa teman baikku, baik langsung ataupun tidak langsung, setia merayuku untuk kembali.

"Kamu butuh keluar non, jangan ngerem aja, nggak nolong!"

"Kami rindu liat kamu, semoga semuanya baik"

"Ketiadaanmu membuat kami khawatir, semoga semuanya berjalan lancar."

Begitulah inti dari beberapa pesan yang aku terima selama masa "masuk gua". Sebenarnya sudah lama ingin kembali ke tempat kerja, tetapi sampai kemarin, rasanya belum punya kekuatan untuk melakukannya. Keinginan selalu ada, kerinduan apalagi, tetapi selalu saja ada alasan yang membuatku tetap di rumah.

Dua minggu terakhir ini aku semakin sehat dan menikmati pengalaman baru yang indah dan tak terlupakan ini, karenanya aku tak mengikuti perasaanku lagi ketika aku keluar dari pintu rumah hari ini.

Teman baikku di tempat kerja memelukku erat saat kami bertemu. Tanpa terasa satu jam kemudian ruangan mungil kami menjadi penuh dengan suara, tawa dan canda kembali. Ada yang hilang, komputerku rusak, mati. Setelah ditinggal hampir empat bulan, ternyata komputerku pun ikut ngadat. Ditambah dengan rusaknya laptopku, aku tak bisa mengerjakan apa-apa. Akhirnya siang ini aku mengelilingi kampus, menggali memory yang pernah ada dan menikmati siang musim gugur yang hangat.

Di depan layar di pusat layanan komputer, aku kembali bergairah menyusun rencana-rencana ke depan. Bergairah untuk kembali berkarya. Lega rasanya bisa kembali, walaupun tak ada janji dan kepastian akan kesempatan kerja yang baru. Tak apa, yang membuatku senang adalah, aku seperti menemukan diriku kembali dan si kecilpun sepertinya senang, karena dia begitu tenang selama aku bernostalgia dan meluapkan semangat baru ini.

Wednesday, October 11, 2006

Satu Tahun

Satu tahun yang lalu, ada satu kehidupan terhenti. Menyisakan kesedihan yang mendalam dan rasa rindu yang tak putus. Bahkan sampai hari ini. Seandainya saja dia ada, banyak yang bisa kita alami bersama. Pikiran tentang betapa bahagianya dia kini bersama Sang Khalik, menolongku untuk tetap bisa menjalani hidup dengan nikmat.

Sudah satu tahun menanti, ada juga satu kehidupan baru di dalam tubuhku. Keajaiban tertiupnya nafas baru menyadarkanku bahwa siklus kehidupan belum berhenti. Lingkaran kebahagiaan tetap tak terputus dan aku bisa tersenyum menikmati kehadirannya.

Tak pernah lelah Dia berkarya, tak pernah lelah Dia ajari hidup, dan tak pernah lelah dia beri aku sukacita. Aku bersyukur. Bersyukur untuk pernah mengalami masa indah dengan orang tercinta dan bersyukur untuk mengalami masa indah sekarang dan ke depan dengan manusia baru.

*kenangan atas perginya ibu tercinta setahun yang lalu

Wednesday, October 04, 2006

Mati Lampu

Mati lampu merupakan hal yang biasa terjadi. Tanpa peringatan, tanpa tanda-tanda, tahu-tahu....pett. Tidak peduli apakah kita sedang enak menonton tv, atau sedang menggunakan komputer, atau sedang membaca, atau yang lainnya, kejadian mati lampu tetap saja terjadi tanpa permisi. Hal ini lalu diiringi dengan teriakan kekecewaan. Tetapi biasanya hanya teriakan kekecewaan yang terjadi. Selanjutnya walaupun diiringi dengan dumelan, omelan, makian dan segala sumpah serapah, setiap orang akan berusaha menerima keadaan dan menunggu sampai perbaikan atau kebaikan hati orang PLN akan menyalakan aliran listriknya lagi.

Lain di kampung halaman, lain di negri orang. Pernah, beberapa tahun yang lalu kejadian aliran listrik padam terjadi saat aku harus melakukan pekerjaan di laboratorium. Laboratoriumku yang satu ini agak unik. Dia terletak terpencil di bawah tanah, yang walaupun dihari kerja tak pernah ada satu orangpun yang rela datang kesana. Selain karena sepi, jalan menuju kesanapun gelap, dan di laboratorium itu kita hanya akan ditemani dinding bunker yang tebal, tumpukan sampel-sampel batuan dan mesin-mesin yang berbunyi tapi tak bernyawa. Sebetulnya, akupun tak suka berlama-lama disana. Tetapi karena bagian penelitianku membutuhkan fasilitas itu, maka terpaksalah aku menjadi pengunjung tetap laboratorium sepi dan tak ramah itu, meskipun di hari sabtu atau minggu.

Satu hari di hari sabtu, sedang asyik bekerja ditemani radio kecil, tiba-tiba aliran listrik mati tiba-tiba. Reaksi pertamaku hanya kaget. Tapi selebihnya aku seperti tercekik ditengah kegelapan dan panik mulai melanda. Berjalan tertatih-tatih, sambil berusaha mencari pegangan dan berusaha tidak merusak preparasi sampel dan alat-alat yang mudah pecah, aku berusaha mencari orientasi dan memikirkan hal yang harus kulakukan. Kali ini, makian, kemarahan tidak akan banyak menolong dan membuat hatiku puas. Aku tetap panik dan takut. Ditengah rasa panik, selain makian, doa dan juga usaha menghibur diri kulakukan, karena usaha mencari pintu keluar dalam keadaan gelap gulita, melewati ruang laboratorium yang gelap yang dilanjutkan oleh lorong panjang yang juga gelap, bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Berteriak minta tolong pun akan sia-sia, selain karena dinding yang tebal, tak ada orang yang sudi datang kesana, hari itupun hari sabtu, dimana tidak banyak orang suka rela datang bekerja di uni bila tidak terpaksa. Sambungan teleponpun ikut mati seiiring dengan putusnya aliran listrik. Dan yang lebih menyebalkan, aku lupa membawa telepon genggamku karena kupikir tak akan berfungsi banyak diruang bawah tanah.

Perlahan-lahan akhirnya kutemukan jalan keluar. Rasa lega baru tercapai setelah aku melihat cahaya matahari di luar lorong bawah tanah. Bergegas, aku mencari lampu senter di ruang kerjaku dan kembali ke ruang gelap itu, untuk membereskan sampel-sampelku. Tak ada lagi niatan untuk meneruskan pekerjaan yang tertunda. Pekerjaanku tidak tuntas hari itu dan aku lalu melanjutkan kegiatan menikmati suasana sabtu dengan tenang. Hari minggu, aku sudah melupakan kejadian itu dan hidup seperti biasa lagi.

Ketika hari senin aku kembali ke kampus, kehebohan mulai terdengar. Ternyata banyak pihak yang mulai ribut dan melayangkan surat protes kepada perusahaan listrik. Saat pertemuan mingguan digelar, kita diminta menandatangi surat protes dan surat ganti rugi kepada perusahaan listrik itu atas kelalaian mereka melakukan tugas. Ditambah lagi, kejadian padamnya aliran listrik itu juga dimuat di koran lokal, tv dan radio-radio, bahkan dijadikan bahan diskusi oleh ahli-ahli yang dianggap kompeten. Intinya, aliran listrik padam hari sabtu itu menjadi skandal besar.

Iseng-iseng kutanya kepada beberapa temanku yang ikut menandatangi surat protes itu, dimana mereka berada saat kejadian berlangsung. Hampir semua sedang berada di rumah atau sedang bepergian dan tidak tertimpa dampak langsung dari padamnya aliran listrik yang hanya menimpa daerah universitas dan beberapa daerah pemukiman disekitarnya.

Mmm, kalau mereka yang tidak tertimpa bisa bereaksi seperti itu, seharusnya aku bisa bereaksi lebih heboh lagi, karena aku adalah salah satu korban langsung. Tetapi karena sudah terbiasa dengan padamnya aliran listrik yang tiba-tiba tanpa pertanda, aku jadi seperti terbiasa juga menerima kerugian itu dan tidak terpikirkan untuk protes atau melakukan tindakan menuntut ganti rugi. Malahan aku merasa kejadian itu biasa-biasa saja dan memaklumi keterbatasan kerja manusia.

Dengan kejadian ini, aku jadi bertanya-tanya, seperti apakah seharusnya aku bereaksi bila hal ini terjadi lagi? menganggapnya sebagai hal yang biasa dan hidup dengan keadaan itu, atau harus ikut protes juga?

Tuesday, June 27, 2006

Menerima diri sendiri

Diawal pekan kerja ini aku dan beberapa sahabatku sepakat untuk melewati saat sarapan bersama. Bukan tanpa tujuan kami bertemu. Selain menikmati suguhan sarapan murah, meriah dan mengenyangkan, kami pun ingin mengenal satu dengan yang lain lebih dalam lagi, terlebih kami ingin belajar mengenal diri kami sendiri.

Sahabatku beberapa waktu yang lalu sempat membagikan salah satu bagian dari buku tentang wanita yang ternyata sulit menerima dirinya sendiri. Setelah dibaca dan disadari, ternyata hal itu memang itu menjadi masalah bagi kebanyakan wanita. Tuntutan sosial yang menuntut kesempurnaan fisik seorang wanita, membuat wanita merasa tidak aman untuk menjadi dirinya sendiri. Rasa tidak aman ini mendorong wanita untuk mengusahakan agar dirinya layak dianggap ada dan diterima oleh lingkungannya. Usaha memperbaiki kecantikan, program pembentukan tubuh yang ideal dan beragam produk yang menawarkan ke-ideal-an seorang wanita, membuat kebanyakan wanita lupa akan esensinya menjadi wanita, menjadi seorang manusia.

Terdorong dari situ, kami sepakat bertemu dan mencoba untuk mengenali diri kami sendiri. Melalui excercise ringan dan diskusi yang hangat kami boleh belajar untuk mencoba melihat ke dalam. Seru dan menyenangkan. Lepas dari isi diskusinya, ada satu hal yang kurasakan begitu menonjol dari pembicaraan kami. Setelah kami menuliskan sisi baik dan buruk kami pada secarik kertas, ternyata kami semua memiliki kesamaan, yaitu lebih mudah menuliskan kelemahan atau kekurangan kami ketimbang kami menuliskan kelebihan atau bakat-kami yang menonjol. Sepertinya begitu sulit untuk mengungkapkan kelebihan dan bakat kami, tetapi kami bisa dengan ringan bisa menulis betapa kami tidak sabar, malas, keras kepala, cerewet dan sejuta kekurangan lainnya. Hal ini membuatku sempat termangu setelah pertemuan ini usai. Mengapa seperti itu? mengapa kami seperti enggan untuk membagikan apa yang menjadi kekuatan kami kepada orang lain?

Ketika aku bercermin pada diriku sendiri, aku teringat bahwa kebudayaan kita selalu menekankan pada betapa pentingnya rendah hati. Kalau kuingat, betapa banyak peribasa yang dibuat untuk selalu rendah hati. Tong kosong nyaring bunyinya, atau pakailah ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk, air beriak tanda tak dalam, dan yang lainnya. Ditambah lagi dengan panjangnya pelajaran pendidikan moral pancasila yang menekankan untuk selalu rendah hati, ramah, gotong royong dan hal-hal pancasilais lainnya. Salahkah semua itu? tentu saja tidak. Tetapi disadari atau tidak disadari, hal itu mendorong kita untuk berhati-hati dalam bersikap. Salah-salah kita bisa dianggap orang yang sombong, dan itu mendorong kita mendapat point negatif dari lingkungan kita. Karenanya tak heran bila aku sering termalu-malu dan berusaha menutupi kelebihanku dengan sejuta kata-kata rendah hati. Bahkan tak jarang hal ini membuatku menjadi lebih berkonsentrasi pada kekuranganku dan berujung pada kesadaran bahwa aku tak cukup baik untuk melakukan sesuatu hal.

Bila dibandingkan dengan teman-temanku di Eropa sini, sepertinya hal itu berbanding terbalik. Tanpa ragu, mereka mampu menyebutkan kelebihan atau kemampuan mereka secara terbuka dan sekaligus kekurangan mereka. Dan mereka yang mendengarkanpun tak langsung memberikan reaksi negatif ketika mendengarkan seseorang menyebutkan kemampuannya. Semuanya disambut biasa-biasa saja. Rasanya tak ada cibiran yang dilanjutkan dengan bisik-bisik, tong kosong nyaring bunyinya. Memang adakalanya, mereka tidak seperti yang mereka katakan, tetapi mengenali kemampuan diri sendiripun menolong mereka untuk belajar percaya pada diri sendiri. Kalau kubayangkan, aku pasti akan tersipu malu dan mengatakan "ah, ini biasa-biasa saja kok, saya masih belajar" ketika seseorang memuji hasil pekerjaanku walaupun kenyataannya aku memang mampu dibidang itu. Rasanya tidak pantas kalau aku mengatakan hal yang sebaliknya.

Memang kurang baik untuk memiliki rasa percaya diri yang berlebihan. Tetapi menutupi dan menyelubunginya pun membuat kita sering mempunyai gambaran diri yang salah. Tak semua kemampuan diri yang tak diucapkan menunjukkan bahwa seseorang itu rendah hati. Karena sering pula hal itu mendorong kita mencibir dan merendahkan karya seseorang karena diam-diam kita merasa diri kita lebih mampu atau lebih baik.

Sekarang ini, rasanya aku perlu lebih banyak belajar untuk bisa mengenali kelebihan dan kekuranganku dengan lebih objektif. Karena aku percaya bahwa seseorang diciptakan lengkap dengan talenta dan keterbatasannya. Ketidakseimbangan mengenali keduanya, sepetinya membuat kita tidak bersyukur pada pemberi hidup. Mungkin aku perlu berlatih untuk dapat menyampaikannya dengan kemas yang lebih baik. Mmm, tugas yang berat.